Archive for January, 2009

31
Jan

5027

5027

Adakah artinya angka tersebut buat anda? Bisa Ya dan pastinya yang bilang tidakpun lebih banyak lagi. Sekedar tahu saja bahwa saya menuliskan angka tersebut karena ada sejumlah orang yang terbilang dengan angka tersebut. Yang saat ini dihinggapi penyakit ”Narcism”

Yang saya maksud mereka-mereka yang saat ini sedang memamerkan dirinya sendiri. Memamerkan wajahnya, mengenalkan kumisnya, memajang kacamatanya dan mungkin lengkap dengan atribut peci dan senyum sungging yang sedikit dipaksakan. Dan tentu anda bisa menebak sendiri ”narcism” yang saya maksudkan adalah mencaleg-kan dirinya.

Dan secara sangat kebetulan saya ternyata salah satu diantaranya. Diantara 5027 orang sebanten yang nama dan wajahnya beredar di seantero Banten. Nama dan foto saya nantinya akan ada diantara 5027 orang yang tercantum di kertas suara (meski untuk foto tentu hanya DPD saja) namun sudah kadung tersebar luas bahwa arena mengkampanyekan diri ini ternyata menampilkan dirinya sejadi2nya, meskipun pada saat nanti di kertas suara mereka yang memperebutkan kursi DPR dan DPRD hanyalah urutan nama-nama yang di bumbui dengan berbagai atribut gelar di belakangnya.

Diantara 5027 orang tersebut, saya merasa belum sepenuhnya terjangkiti oleh wabah pandemik penyakit ”Narcism”. Persoalannya bukan lantaran belum terinveksi, melainkan masalah dompet yang tak kunjung mekar-mekar sehingga sepertinya saya harus menahan diri sampai akhirnya dompet saya lebih tebal sedikit dari kesehariannya, karena jelas pasti akan sangat menguras energi sekali. Karena gesekan ATM tentu berimplikasi pada berkurangnya energi keseharian saya. Anda boleh menertawakan saya. Ambil contoh saja untuk mencetak 20,000 stiker saja saya harus menjual 2 buah komputer dan satu printer, itupun setengahnya di bantu oleh kawan-kawan yang tahu-tahu sms ”sudah ditransfer” kata mereka. Stiker saya ukuran mini sekali. Seperempat kertas folio.

Anda bisa membayangkan berapa yang harus dikeluarkan untuk mencetak 50,000 stiker ukuran double folio (8x ukuran setiker saya) dan berapa yang harus dikeluarkan untuk lebih dari 100,000 stiker setiap edisinya. Dan kalikan itu untuk 5027 orang. Masya Allah. Sungguh sebuah peluang bisnis yang menggiurkan. Dan saya menggerutu kenapa tidak bisnis percetakan. Dalam batin saya.

Meski ada sebuah keprihatinan yang mendalam buat saya, bahwa diantara para kaum ”narcism” tadi ada yang berasal dari uang yang sehat dan dari pandangan sekilas ada yang berasal dari uang yang kurang sehat atau bahkan dari uang hasil proyek-proyek yang bergulir di APBD, dan melihat defisitnya APBD Banten senilai 147,9 Milyar, saya tercengang masih ada kandidat Caleg yang notabene hidup dilingkungan APBD dengan gagahnya tanpa malu-malu bahkan over limit menurut ukuran caleg sendiri, sudah Kampanye layaknya calon kepala Daerah. Bahkan mengiming-imingi dengan voucher hadiah segala.

Adakah yang salah??? Menurut ukuran dompet anda mungkin tidak salah, meski demikian saya kira ada ukuran batasan moral yang hendaknya menjadi acuan, jika anda pengusaha besar dari hasil keringat sendiri mungkin anda boleh saja bebas-sebebas-bebasnya tapi kalau anda masih menggantungkan hidup pada APBD masih berkeliaran disektor pelat merah, masih bergentayangan dari DIP ke DIP yang lain. Saya kira ini menjadi problem karena defisitnya anggaran Banten boleh jadi memberikan indikator there is something wrong. Karena sebodoh-bodohnya masyarakat pasti melihat, mereka juga membaca koran dan mendengar radio, dan televisi belum lagi mereka juga berinternet ria. Jadi informasi itu akan cepat sampai tersuguh pada mereka.

Narcism ya narcism, tapi ya jangan Narcism amat lah. Apa artinya Baliho sebesar lapangan sepakbola kalau rakyat tahu betul dananya dari hasil “ngembat uang rakyat”. Apa artinya iklan di media setiap hari disemua media lokal dan nasional kalau rakyat sampai tahu bahwa Anda Anak pejabat atau menantu pejabat atau suami pejabat. Bukankah anda sedang mempertontonkan pengadilan cemoohan diri sendiri, bukankah anda sedang menyembunyikan senyum kerakusan anda yang tentu saja mengundang rasa jijik.

5027 orangbaik foto, kumis, kacamata, peci dan berbagai atribut lainnya bergentayangan seantero Banten. Tentu hanya orang yang sedikit gila saja yang mempertaruhkan segala sesuatunya untuk sebuah kursi yang belum tentu setelah mendapatkan dan memperoleh kursi tersebut anda makin dihormati, jangan-jangan anda bersiap-siap menyusul aktor-aktor politik yang saat ini tengah di ”satroni” oleh KPK.

salam kenal dan persahabatan

Mohammad Hamdan

(ingat Satu2nya dikertas suara DPD YANG PEGANG MIK)

19
Jan

Menggugat!!!

sengaja saya posting surat anda di buletin ini untuk kita berbagi bersama dengan banyak teman dan sahabat lainnya.
Meilinda :
sorry bgt ya..saya pikir lbh baik kita urus negara kita yg idupnya jg banyak yg lbh susah..biar lah tu jd urusan mereka.bkn berarti kita gak peduli perdamaian dunia ya..kita pikir aja ngr kita apa uda bgs,semua jg kyk perang..cuma ini lbh halus,perang cucah cari mkn n pekerjaan…kl g sih berharap pd negara kita aja,buat istrael n palestina kita cukup berdoa aja supaya pedamaian dunia.thx
Teruntuk sahabatku Mei Linda, Sya mungkin bukan orang yang melihat tetangga Anda di mutilasi kemudian saya berdiam diri begitu saja.
dan saya bukan tipe orang yang melihat sebuah kesombongan atas nama apapun itu, membabi buta seolah Membunuh adalah “wajar” manakala pengaruh ideologi Salah secara Kaprah. dan benar secara chauvinist bahkan adil secara egoistik. ini jelas bukan sebuah kebenaran yang dimaksud dan bukan pula adil secara nurani. pasti ada yang salah dengan ajaran atau teologi yang melatar belakanginya.
ini pula yang saya teriakan ketika Amrozi cs meledakan Bom Bali, manusia harus di hargai secara manusiawi, kecuali mentalitas “master” yang memperbudak manusia dan manusia lainnya karena kebenaran yg bersifat “ascribed”. pendulum kebenaran menurut saya Nurani dan dari sanapulalah Tuhan yang maha benar menitipkan satu lagi Instrument bernama AKAL, sampai sejauh ini tentu anda mengerti bahwa membunuh anak-anak adalah tidak dibenarkan baik secara Akal maupun Nurani, dan mungkin saya dan banyak orang lagi didunia yang kerdil ini menggugat pembunuhan atas nama apapun, bahkan menggugat Hasrat untuk membunuh demi… sebuah Ketakutan Takut terbunuh (sebuah ketakutan yd dibuat oleh dirinya sendiri)
Terorisme Bukanlah faktor tunggal.
bagaimana kita mncerna ada orang malaysia bernama DR. AZAHARI yang NOTABENE satu rumpun mengobrak abrik bangsa tetangganya, menurut hemat saya itu sama dengan mencoreng mukanya sendiri.
dan menurut akal saya DR. AZAHARI. adalah hantu Blau yang sengaja diciptakan untuk mngentaskan bahwa memang ada Teroris di Indonesia, Ada Bom Maka Adalah Teroris, kita mngesampingkan berbagai fakta bahwa bahan peledak Bom Bali 1 Adalah semi nuklir yang pada beberapa tahun lalu hanya di kembangkan oleh Israel. (coba anda google-in aja)
lalu bagaimanakah perlawanan kita menghadapi jajahan Israel ini. jadi menurut Akal dan Nurani saya ini tidak Boleh dibiarkan, bahkan perlawanan ini harus lebih dari sekedar gugatan. Nyatanya memang banyak aparatus Israel di Indonesia, termasuk di berbagai lembaga tinggi Negara,. meski saya juga mengguggat mereka yang menuduh aliran pemikiran liberal adalah didanai Yahudi, justru menuduh dengan mengesamping dan menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya adalah TERORIS. fakta membuktikan bahwa didunia ini tidak ada satupun negara yang berani melanggar resolusi PBB hingga se-ABreq jumlahnya.
Fakta membuktikan mereka yang bertindak diluar konstelasi hukum adalah mereka yang membabi-buta memaksakan kebenaran.
ketika anda menyarankan saya “ngurusin” negara kita aja, tentu ada korelasi benang merahnya bahwa, KORUPSI, NEPOTISME, KERAKUSAN, KESERAHAKAN, NARKOBA, ANARKI adalah harus dilawan. ini tentu secara akal dan nurani. dan Nuklir hanya bisa dimiliki oleh Negara besar seperti Amerika dan Israel, kita tentu bertanya, kalau mereka menyerang kita dengan nuklir. anda masih bisa berpikir dengan akal kah? kalau anda melihat Anak anda kelak di bantai di depan mata anda sendiri, masih beranikah kita untuk melakukan pembiaran, saya teramat yakin anda pasti akan menggugat seperti cara saya menggugat.
setidaknya saya dan anda dan penduduk sebuah botol kecil bernama semesta ini memahami betapa keadilan adalah perjuangan, dan kebenaran adalah pilihan, dan Kesalahan adalah kekerdilan manusia dan bukan sebaliknya. GBU (semoga kita dilimpahkan hidayah kebenaran)
18
Jan

MENG-INDONESIAKAN OBAMA

MENG-INDONESIAKAN OBAMA

Mohammad Hamdan

Pemerhati Indonesia Soft Power Studies

Calon Anggota DPD Banten 2009-2014

Lalu Obama pun menjadi Presiden, Sebuah Negeri Adidaya yang kita kenal demikian berpengaruh dalam berbagai konstelasi politik ekonomi, bahkan sosial dan Budaya. Setelah melalui Inagurasinya untuk dilantik secara resmi maka lengkap sudah ia menjadi Presiden Ke 44.

Ini situasi yang menantang tentunya tidak saja bagi dunia, bahkan juga bagi Obama sendiri, yang di warisi problem ekonomi yang berdampak global. Dan tentu Indonesia pula sedikit banyak terseret pada arus hilir setidaknya.

Sebagai negeri yang pernah di ”singgahi” oleh Presiden Ke 44 ini sepanjang sejarah fase kehidupannya Indonesia boleh berbangga, sebab difase-fase menentukan perkembangan psikologisnya tersebut Ia memberikan perhatiannya yang sangat besar. Boleh jadi ini tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada perhatiannya bagi Indonesia

TENTANG MIMPI DARI SANG ”AYAH”

Selain jika di turut mengikuti jejak sang ibu yang mengambil banyak studi tentang perkembangan Indonesia. Juga sampai satu titik menurut Maya Soetoro (adik kandungnya satu Ibu) ternyata Obama terakhir kali datang ke Indonesia adalah tahun 1991, atau tatkala ia berumur 28 tahunan dan ia menyelesaikan sebuah buku Dream From My Father.

Ini menarik jika boleh berseloroh maka siapakah ”AYAH” yang dimaksud? ayah biologisnya atau ayah ideologisnya. Atau yang dimaksud sebagai ”AYAH” dibuku tersebut adalah simbol ”mentor”nya. Pembimbingnya atau arahan hidupnya, tentu saja hal ini seutuhnya hanya diketahui oleh Obama sendiri,

Meski demikian, lagi-lagi Indonesia boleh saja berbangga, karena menurut Maya Soetoro, sampai tahun itu pula dapat memahami masyarakat Indonesia secara lebih lengkap. Seperti yang ia ungkapkan sendiri pada adiknya tersebut. Di Indonesialah Obama Belajar seni memahami dan dibumi Nusantara ini pulalah ia belajar bernegosiasi dan berkawan dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Indonesia adalah tempat pertama ia mempelajari fleksibilitas. Lebih jauh lagi, Indonesia adalah tempat pertama ia memahami kompleksitas dunia. Seperti yang dituturkan Maya Soetoro, Lalu apa artinya ini buat kita bangsa Indonesia.

Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan dan yang dengan sedikitnya kekayaannya adalah keanekaragaman itu sendiri. Menurut pendapat saya mengajarkan antusiasme pada Obama, bahwa dirinya adalah bagian dari keanekaragaman dan pemahaman keanekaragaman baik ke dalam diri Obama ataupun tentang pandangannya keluar memahami kompleksitas dunia tersebut.

Intinya Obama secara matang dapat mengelola dunia dengan multi perspektif. Dan secara sangat kebetulan sekali di dalam diri Obama sendiri mengalir Darah keanekaragaman tersebut. Ibu biologisnya An Dunham wanita ras kulit putih sedangkan Ayah Biologisnya adalah Arsitek ekonomi dari Kenya. Tentu dengan ras negro. Sedangkan Ayah tiri yang menjadi pembimbingnya selama usia belasan dan dikenalnya hingga kemudian ia merampungkan Buku tersebut adalah orang Indonesia, berlatar suku jawa, namun mengenal dunia metropolitan karena bersekolah ke Amerika hingga akhirnya berjodoh dengan Ibunya. Dan membawa serta ia dalam pengasuhan. Di Indonesia sendiri ia tinggal di Jakarta yang tentu saja Pluralitasya tak bisa terabaikan untuk memperkaya Nuansa pemikiran Obama. Dan sesekali singgah ke tempat orangtua ayah tirinya di Jogja.

MENGINDONESIAKAN OBAMA

Tidak seperti nama sebuah kota di Jepang sana yang memiliki Kesamaan dengan Presiden Amerika ke 44 ini, Mengindonesiakan Obama lebih berarti kepada menginventarisasi segala sesuatu yang berhubungan dengan mantan ”anak menteng” tersebut dan kemudian memposisikan serta memastikan kehadiran Obama menjadi bagian teramat penting dengan klaim yang pada akhirnya justru mampu ”mendongkrak” Indonesia dimata dunia.

Inilah kali pertama Indonesia disebut demikian banyaknya sebanyak berkait erat dengan Presiden Amerika yang fenomenal di Abad 21 ini. Seiring dengan popularitas Obama yang mendunia, teramat sayang jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dan menurut hemat saya inilah momentum emas. Golden moment yang rasanya keterlaluan. Jika harus hilang begitu saja.

Saya memiliki seorang sahabat bernama Stella Rissa, seorang perancang muda berbakat yang talentanya membuat saya berdecak kagum, karena dalam hitungan bulan saja ia sudah mulai mendunia bukan lagi sekedar menasional. Dan terakhir saya kontak ia sedang berada di Bali untuk membangun Pabriknya.

Belakangan saya tergelitik untuk mengajukan sebuah proposal pada dia untuk membuat merek STELLA RISSA-nya misalnya untuk captive jas, kemeja kaum Adam bernama STELLA ”O” RISSA, sehingga dengan sedikit silabus redaksional dan alasan disana-sini misalnya mungkin juga sedikit keluar dari pakem dunia fashion yang sudah mapan. Maka jadilah merek STELLA ”O” RISSA.

Dibumbui dengan Aksen O di tengahnya mengikrarkan bahwa Stella Rissa harus mendunia dengan segala perbedaan dan keanekaragamannya tentu saja. Dan modalitas keragaman adalah Indonesia sekali. Sehingga dengan mudah Dunia mengasosiasikan dengan Indonesia.

Atau dalam konteks pendidikan Indonesia bisa menjadi Par of Excelency dmana kita bisa saja membangun Universitas bertaraf Internasional dengan nama Obama misalnya dengan fokus pendidikan pada pembangunan sosial ekonomi yang membangun keberagaman dan teknologi yang menyelesaikan persoalan global kemanusiaan.

Untuk wisata mantan anak menteng ini bisa didaulat menjadi nama sebuah kompleks wisata alam The Obama Jungle Park misalnya. Dan ini bertaraf internasional sehingga pembukaannya dihadiri oleh Sasha and Malia, kedua puteri Obama, untuk mengingatkan mereka bahwa Ayahnya pernah bermukim di Indonesia.

Dan kepada dunia Internasional pesan yang kita sampaikan adalah ; jika puteri Presiden Amerika saja berlibur ke Indonesia, tentu saja dunia harus berlibur ke Indonesia, buakn tidak mungkin Genting Island akan lewat begitu saja dan pariwisata akan mengalami Booming. Inilah yang mesti kita lakukan agar Indonesia menjadi Pilihan dunia untuk berlibur. Indonesia Exotica..A place the world Can Rest.

Mengindonesiakan Obama tentu tidaklah semudah wacana dalam tulisan ini, namun setidaknya saya menghimbau, untuk mengingatkan betapa kita berada dalam situasi yang sama menantangnya dengan tantangan Obama mengairahkan ekonomi Amerika. Bukan tidak mungkin bahkan sebuah progres adalah sama pastinya dengan kemajuan itu sendiri tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Memang tidak mudah, namun teramat tidak pintar apabila kita tidak manfaatkan, Indonesia adalah keberagaman dan Obama adalah Aliran keberagaman baru dan Icon keberagaman baru dunia sehingga untuk saling melengkapi dan saling menghargai meski demikian tulisan ini terlepas dari apapun kebijakan Obama Nantinya namun setidaknya Indonesia bisa mengambil keuntungan secara tunai dan meyakinkan bahwa kita Bisa. AYO KITA BISA. YES WE CAN!

12
Jan

Indonesiakah St Moritz?

Indonesiakah St Moritz?

Gugatan Terbuka Untuk Petinggi Negeri Ini

Mendengar sebuah mega proyek bernama St Moritz, decak kagum saya seraya saat itu juga ini pasti akan banyak sekali menyerap lapangan kerja, karena pasti akan sangat Padat Modal sekaligus juga tentunya akan sangat padat karya. Seandainya kita—atau proyek itu di Indonesia? Dan sayapun mengira itu sebuah baliho besar iklan property di negara luar sana, maklum saya membaca sekilas saja ketika harus juga berkendara.

Seperti judul diatas diatas Indonesiakah St. Moritz? YA, ternyata ia tak jauh dari rumah saya, masih dibilangan Jakarta Barat yang setiap harinya saya lewati, karena harus menunggangi jalan Tol Tangerang-Tomang untuk sampai ke tempat saya beraktivitas seperti biasanya.

Seketika itu juga timbul kekecewaan saya, bahwa kenapa harus memakai idiom asing? setidaknya bahasa Indonesia serta Bangsa Indonesia ini kaya dengan khasanah-khasanah yang ”berbau” Indonesia. Kenapa tidak terpikir Bang Pitung Penthouse & Residence?

Bukankah Pitung adalah Icon perjuangan rakyat Jakarta? Selain mengenalkan kembali kepada anak dan cucu kita, bahwa once upon a time ada legenda perjuangan melawan penjajahan Belanda juga kalau anda buat situsnya nama Bang Pitung itu saja sudah mendistribusikan khasanah ke-Indonesiaan untuk mendunia, kapan lagi Indonesia dan KeIndonesiaan melegenda sekaligus mendunia.

Pasti tidak lama dari itu akan muncul sebuah sinema yang mereproduksi film yang pernah di Bintangi oleh Artis Besar Indonesia Almarhum Dicky Zulkarnaen. Dan bukan tidak mungkin filmnya meledak dan tidak lama dari itu akan muncul berbagai anasir sosial dan budaya yang berimplikasi pada ranah ekonomi.

Meng-Indonesiakan Indonesia

Ada sebuah film laga aksi dari Thailand bertitle GARUDA, saya tercengang oh ya, kok bisa? Itukan bahasa kita kok bisa-bisanya dipake orang Muang-Thai. Sejurus kemudian saya tersadar belum ada satupun sinema Indonesia yang memakai kosa kata GARUDA. Lambang negara ini yang kita banggakan ini dan memiliki prestise ”kesaktian” dan tingkat kanuraga’an yang mumpuni dalam setiap nilainya. Sehingga tidak mengherankan Ia bisa diangkat menjadi sebuah title sinema yang diproduksi teman kita serumpun di Thailand sana.

Dan kawan kita serumpun tersebut ternyata jauh lebih jeli, karena mereka sangat sadar untuk memenangkan pertarungan Global ini kita sejauh mungkin memperbesar jejaring sambil menginventori apa saja khasanah yang bisa di klaim sebagai kekayaan mereka.Kita tentu sangat paham apa arti klaim tadidan implikasi ekonominya.

Mereka membenamkan peperangan besar bernama globalisasi justru dengan mengartikulasi klaim idiom-idiom, ini sama persis dengan kasus rasa sayang-sayange. Tak becusnya kita menggali kekayaan kultural warisan nenek moyang justru segera di pelihara dengan baik dan bernilai sangat profetisnya justru oleh ”kawan serumpun”

Serta memasukan kedalam jejaring komunikasi pencitraan tadi artikulasi Idiom yang mampu mengangkat citra KeIndonesiaan. Bukan saja itu melainkan juga mereklamasi prestasi para leluhur kita setingkat Maha Patih Gajah Mada, yang mampu mengukirkan penguasaan hingga sebagian filipina dengan sumpah palapa-nya, untung saja Soeharto sudah memakai Palapa sebagai nama satelit kita, karena jika kalah cepat bukan tidak mungkin jadi nama PLTN pertama di LAOS.

Seraya saya juga mengingatkan ada sebuah mega proyek di seputaran Jakarta ini yang menggelikan menurut nalar KeIndonesiaan saya, pertanyaannya sedehana saja dimanakah anasir KeIndonesiaan yang bisa kita letakkan?

Jujurnya saya mengguggat proyek-proyek seperti dan sebesar St Moritz yang justru tidak memakai sama sekali atribut dan unsur KeIndonesiaan kalau boleh tidak menggantinya dengan kata menghilangkan, kita boleh modern tanpa meninggalkan sejengkalpun keluhuran nilai budi dan pekerti lokal. Kita boleh tinggal landas dan memacu adenalin pembangunan namun teramat sayang meninggalkan lokalitas yang justru menjadi kekayaan dan modal kultural kita.

Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya kita 100 tahun lagi ketika anak-anak cucu kita sudah sangat familiar dengan grammar english, dan lupa dengan kosakata Bahasa, bahwa ada keunikan dan keluhuran yang bergitu bernilainya dari ke-Indonesiaan, ironisnya elo-elo pada tauk ga? yang bahkan Elo dan gue udah di adopsi abis, oleh tetangga serumpun. Jangan-jangan kita akan sekedar menjadi pasien rumah sakit korban lelaki, dan mendapat piala pusingan ketertinggalan budaya sekaligus ekonomi di abad mendatang. Sementara nyang punya kite dicomot tetangga, terus nyang kite pake malah kita mesti import.

Bagaimana mungkin anda bisa menduniakan Indonesia kalau anda tidak berupaya untuk meng-Indonesiakan Indonesia. Ini sebuah momentum sangat serius, dan sekali lagi ini juga menjadi cambuk menjadi paradigma kita sebagai bangsa yang bangga dengan sejarah, khasanah dan dirinya sendiri. Bukan sekedar meminjam milik bangsa lain. Apalagi itu sampai bernilai ekonomi yang tinggi, setidaknya dampak dan urutan komoditi budaya sebagai efek sampingnya saja sudah membuat lapangan kerja, apalagi proyeknya sendiri. Bukan begitu?

Pesan saya untuk para pejabat dan pemimpin negeri ini, mari tidak lengah menjaga dan mempertahankan kekayaan kita, satu-satunya cara bertahan paling ampuh adalah menyerang, maka seranglah pasar global dengan khasanah-khasanah kekayaan budaya kita. Mumpung sedang di galakkannya Tahun ekonomi kreatif, maka alangkah kecolongannya bila dari sisi budaya kita justru melakukan pembiaran anasir asing menguasai environment bangsa kita sendiri. AYO KITA BISA MengIndonesiakan INDONESIA.

Mohammad Hamdan

Penulis adalah pemerhati INDONESIA SOFT POWER Studies.

Fs/blogs : senatormudabanten@yahoo.com0818719069